Bulu tangkis era 1950

Pada tahun 1950-an perkembangan bulutangkis sudah menjadi permainan tingkat nasional dan dimainkan hampir di semua kota di Indonesia khususnya di pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Kali­mantan. Setelah sempat mati dalam masa penjajahan Jepang, olahraga ini kembali dimainkan tidak lama sehabis Indonesia merdeka. Pertandingan antarkota sudah mulai diadakan, dari semula hanya antarperkumpulan. Bagaimana penyebaran bulutangkis itu di tanah air antara lain dapat dilihat dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Surakarta tahun 1948 yang diikuti banyak wilayah (karesidenan).

Menurut pemberitaaan di media, upaya untuk mendatangkan pemain-pemain luar negeri pun muncul kembali setelah terhenti akibat perang. Sebagaimana diketahui di tahun 1930-an sudah merupakan hal biasa tim dari Cina, Malaya, dan Belanda bereksibisi ke Indonesia untuk berhadapan dengan klub lokal, khususnya di cabang sepakbola. Pernah juga datang perkumpulan olahraga tertentu yang membawa klub bola basket, bola voli, tenis. Khusus untuk bulutangkis menurut catatan yang pernah datang adalah pemain dari Malaya.

Tidak lama setelah bond di Jakarta bergabung menjadi satu, maka muncul ide untuk mengundang regu luar negeri melakukan pertandingan antarkota. Ini dapat dikatakan sebagai pertandingan internasional pertama. Diundanglah tim Penang untuk bertanding, tidak cuma di Jakarta tetapi ke beberapa kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Untuk menghadapi tim ini maka Perbad melakukan seleksi yang diikuti pemain-pemain top dari berbagai daerah seperti Ferry Sonneville dan Tan Tjin Ho dari Jakartra, Kusumajadi dan Margono dari Bandung, Yap Liang Seang dari Cirebon, Rachmat dan Surono dari Solo, Njoo Kim Bie, Sie Kok Tiong dari Surabaya, Soeharto, Tjondot, Sartoyo dari Yogyakarta. Setelah seleksi yang diadakan di Gedung Sin Ming Hui, terpilih tim yang beranggotakan Njoo Kim Bie, Ferry, Kusumajadi, Sie Kok Tiong, dan Tan Tjin Ho.

Karena belum ada gedung olahraga di Jakarta yang dianggap representatif maka pertandingan diadakan di Lapangan Gambir. Salah satu pojok pasar malam itu dibuat semacam stadion mini, dengan kapasitas penonton sekitar 500 orang. Stadion dipagari dengan dinding tepas (bambu anyam). Pertarungan yang mendapat perhatian luar biasa dari penggemar bulutangkis ini berakhir dengan skor 3-2 bagi Penang. Namun sebetulnya hanya satu angka yang direbut pemain Indonesia yakni setelah Ferry menang atas Cheah Thian Khoe. Di satu partai lagi pemain tamu mengundurkan diri. Dapat dikatakan ini adalah cikal bakal tim nasional karena menggabungkan pemain berbagai daerah yang memiliki pemain “kuat” untuk bertanding dengan tim asing. Pemain kuat umumnya ada di Jawa, khususnya di kota Jakarta, Bandung, Pekalongan, dan Surabaya, yang punya sejarah pembinaan bulutangkis sejak tahun 1930-an atau sebelumnya.

Pertandingan persahabatan antarkota masih kerap diadakan di tahun 1950-an itu. Pada tanggal 8-10 Agustus 1952 misalnya ada pertandingan segitiga antara Jakarta, Pekalongan, dan Tasikmalaya yang pada saat itu dianggap gudang pemain tangguh selain Surabaya dan Bandung. Seperti sudah diperkirakan maka Jakarta yang memiliki Ferry dan Tan Tjin Ho dan diperkuat dengan kepindahan Eddy Yusuf dari Bandung, menjadi tim tidak terkalahkan. Atas Pekalongan mereka menang 4-1, salah satunya Ferry berhasil melakukan revans atas Gan Kay Houw dengan skortelak 15-4,15-3. Eddy menang 15-3, 7-15, 15-7 atas Gouw Soen Lok, Ong Boen Kauw mengalahkan Ong Kay Hie 14-18,15-8 (Kay mundur). Satu-satunya partai Jakarta kalah ketika di ganda Ferry dan Eddy menyerah 15-10, 4-15, 9-15 pada Kay Houw/Soen Lok. Jakarta pun menang dengan skor 4-1 atas Tasikmalaya.

Tasikmalaya menduduki posisi kedua setelah menang tipis 3-2 atas Pekalongan. Tiga angka kemenangan Tasikmalaya dipersembahkan Olich Solichin yang menang atas Gouw Soen Lok 10-15, 15-8, 17-15, ganda pertama Olich/Usman yang mengalahkan Soen Lok/Ong Kay Hie, 7-15,15-8, 15-6, dan Apit/Siswoyo yang menang atas Lie Kwie/Ong Kie Hian 15-5, 15-6. Pekalongan mendapat angka dari Gan Kay Houw yang menundukkan Apit10-15,15-12,17-16, dan Kay Hie yang mengalahkan Usman, 10-15,15-9,15-6.

Di Jawa Barat, selain Bandung, Tasikmalaya, dan Cirebon, di Cianjur juga bulutangkis berkembang meskipun belum pernah berhasil menghasilkan jago yang berkiprah di tingkat nasional. Di kota kecil itu disebutkan ada delapan klub, dengan dua klub memiliki pemain baik yakni PB Chung Hua dan PB Hudaya. Dalam suatu dual meet pada bulan Maret 1952, Chung Hua dengan andalan pemain kawakan Tan Kim Djoe (juara Cianjur 1949) berhasil mengalahkan Hudaya 5-2. Dua angka bagi Hudaya dipersembahkan Rasmin, pemain terbaik saat itu, di tunggal dengan mengalahkan Kim Djoe 15-7,12-15, 15-10, dan di ganda berpasangan dengan Sapei menundukkan Tjong Tjie Siong/Tjong Hoa Hiong 15-11, 15-10. Angka bagi Chung Hua disumbangkan Tjiong Hua Hiong yang menang atas Sapei, Tan Tek Hoey yang menang atas Saedie, Chu Sun Kie yang menundukkan Endang, dan dua nomor ganda lainya.

Di Madura

Menjelang dan setelah berdirinya PBSI kegiatan bulutangkis di Tanah Air pada tahun 1950 sudah berkembang dengan pesat. Di berbagai pelosok Tanah Air olahraga ini dimainkan baik sebagai olahraga prestasi maupun untuk kegiatan lingkungan. Berita di media cetak menggambarkan keadaan itu.

Di Madura misalnya Persatuan Bulutangkis Indonesia Pamekasan (Perbip) mengadakan seleksi untuk mencari pemain yang akan mewakili wilayah itu dalam kejuaraan di Bandung yang diadakan bersamaan dengan konperensi untuk mendirikan PBSI. Pemain-pemain papan atas semasa penjajahan Jepang dan terus bertahan sampai dengan Indonesia merdeka di Madura tercatat nama Zainudin, Iskandar, Mohamad Nur, Makawi, dan Zawawi. Tetapi tidak semua bisa bertahan dengan munculnya pemain baru. Dalam seleksi itu hanyadua kabupaten yang berpartisipasi yakni Sampang dan Pamekasan, sedangkan Bangkalan dan Sumenep tidak menurunkan pemain.

Dari seleksi maka pemain yang terpilih adalah Makkawi (Sampang), peringkat kedua Mohamad Nur (Pamekasan), ketiga Kusumo (Sampang) dan A Rachman (Pamekasan). Sesuai dengan undangan dari panitia di Bandung, hanya tiga pemain yang boleh mewakili satu karesidenan, yakni dua tunggal dan satu pemain untuk ganda.

Pada akhir 1930-an dan awal 1940-an bulutangkis memiliki peminat besar di Madura dan dimainkan sampai ke kota-kota kewedanaan seperti Waru, Torjun, Bleda, sedang di kota kecamatan seperti Tlanakan, Pakong, dsb. Klub-klub juga lahir seperti Sanitas di Bangkalan, Tjendrawasih di Sampang, Kipas, ROS, Nusantara di Pamekasan, dan di Sumenep ada klub Sepakat, dll. Tetapi digambarkan kegemaran bermain bulutangkis ini kadang seperti hangat-hangat tahi ayam, kalau sedang ramai maka aktivitasnya tinggi tetapi kalau sedang jenuh maka kegiatan pun berkurang. Di samping itu persaingan tidak sehat antarklub untuk mengungguli klub lain ikut membuat kondisi tidak kondusif. Walaupun demikian di zaman Belanda aktivitas bulutangkis digambarkan cukup ramai.

Ketika terjadi Perang Dunia II, saat Jepang menduduki dan dalam upaya mempertahankan tanah jajahannya di Indonesia maka orang yang bermain bulutangkis merosot tajam termasuk di Madura. Jangankan untuk berolahraga, untuk bisa hidup normal saja sulit karena buruknya gizi. Peralatan, entah itu raket atau kok, sulit didapat. Kalaupun ada kok yang bisa dipakai itu adalah Djawa-baru yang kualitasnya kurang memadai. Kondisi kembali menjadi normal ketika Jepang menyerah dan hubungan dengan kota Surabaya kembali normal. Klub-klub baru bermunculan, begitu pula pemain-pemain baru seperti Mochamad Nur, Zaini, Rachman.

Di Medan dan sekitarnya

Tidak lama setelah kejuaraan di Bandung, tepatnya 18-22 Agustus 1951 PBSI Tjabang Medan (Sumatera Timur) mengadakan kejuaraan, yang dimaksudkan sebagai persiapan menghadapi tim Aceh dan Tapanuli dalam seleksi PON 1951 bulan Oktober di Jakarta. Tercatat hanya dua kabupaten yang ikut serta yakni Deli Serdang dan Langkat. Tercatat ada 110 pemain putra-putri yang ikut bertanding di nomor tunggal dan ganda termasuk ganda campuran. Perhatian masyarakat untuk menyaksikan kejuaraan ini menurut berita di media cetak, sangat besar. Hanya saja meskipun secara kuantitas sangat tinggi, kualitas permainan digambarkan sebagai masih kalah jauh di bawah tingkatan pemain-pemain di Jawa.

Gelar juara direbut Lim Jung Chin yang mengalahkan juara bertahan Impun dengan 15-12,12-15, dan 15-3. Berpasangan dengan Impun, Lim menjadi juara ganda dengan mengalahkan pasangan Amir/Ketjik dengan 15-10,15-13. Lim merebut gelar ketiganya dengan berjaya di ganda campuran, berpasangan dengan Gan Bie Nio menundukkan pasangan Amir/Ny M Aipassa 15-10,15-9. Sedangkan gelar tunggal putri direbut Berlian Batangtaris yang menang mudah 15-3,15- 3 atas Gan Bie Nio.

Sukses Lim merebut tiga mahkota menciptakan dia sebagai bintang baru di kota Medan. Apalagi karena dia menyudahi perlawanan Impun yang tidak terkalahkan dalam 10 tahun terakhir di dunia bulutangkis lokal. Lim yang masih berusia 18 tahun, baru dua tahun terjun di bulutangkis dan dilatih oleh Impun yang berusia kepalatiga, sehingga kemenangan itu bukan sesuatu yang luar biasa.

Pertandingan final menunjukkan hal itu. Impun yang selama ini dijuluki bernafas kuda karena daya tahannya yang luar biasa, karena usianya, sudah merosot tajam. Jagoan baru Lim mendapat julukan baru “nafas pelanduk” karena permainan cerdik, hati-hati, kontrol bola dan lapangannya baik, yang membuat sang guru.tidak berdaya melawannya.

Yang menarik, gelar pemain terbaik justru jatuh ke tangan Sie Wan Ming yang dikalahkan Lim di delapan besar. Berdasarkan penilaian atas gaya permainan, taktik, teknik, dan sportmanship dia dianggap lebih pantas menerima piala ketimbang Lim Jung Chin.

Di Medan, perserikatan bulutangkis didirikan dalam rapat pengurus klub pada tanggal 27 Februari 1951 dengan nama Ikatan Persatuan Olahraga Bulutangkis (IPOB) yang diketuai M Nurdin Datuk Besar, dengan sekretaris Amirsjam Pulungan dan Tengku Lutfi. Salah satu keputusan organisasi ini adalah mengadakan kompetisi, yang secara simbolis ditandai dengan pertandingan eksibisi pada tanggal 11 Maret 1951 di lapangan Balai Prajurit yang diikuti oleh pemain dari 28 perkumpulan termasuk luar kota Medan seperti Besitang dan Pangkalan Brandan. Pemain-pemain kenamaan seperti juara tak terkalahkan Impun, Amir Ketjik, dan Tan, Yap juga ikut serta. IPOB inilah yang mengirimkan pemainnya ke Bandung, dan setelah resmi PBSI berdiri berubah nama menjadi PBSI Cabang Medan (Sumatra Timur).

Di Banjarmasin

Organisasi bulutangkis di Banjarmasin berdiri pertama kali pada 19 Januari 1952 dengan nama Gabungan Bulutangkis Kota Besar Bandjarmasin (GBKB). Pendirian ini dimaksudkan untuk menyatukan seluruh persatuan-persatuan bulutangkis yang ada di wilayah itu serta menghidupkan kegiatan bulutangkis dan agar diterima menjadi anggota PBSI. GBKB diketuai oleh Letnan Satu Hah Boedhigawis dengan wakil Zainal Muchli, sekretaris Husien Achmad dan wakil sekretaris Hassan Basery.

Salah satu kegiatan yang dilakukan setelah terbentuknya perserikatan ini adalah kejuaraan untuk mencari juara Banjarmasin. Namun itu baru bisa diadakan pada akhir tahun 1952 yakni setelah selesainya Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jakarta, pada bulan Oktober. Kompetisi diikuti oleh 30 perkumpulan yang ada di kota itu. Ada empat lapangan yang secara serempak menggelar pertandingan yakni SB Kempen di Jalan Lambung Mangkurat, “Samudera” di Jalan Pelabuhan, OBC di Jalan Ulin, dan CHTNH di Jalan Patjinan. Final diadakan di lapangan SB Kempen, namun tidak semua skor pertandingan diberitakan.Para juara yang dihasilkan terbagi dalam dua kategori. Juara kelas A untuk tunggal M Saleh (OBC) yang mengalahkan Bachrie (Satria), 15-8, 15-8, pemenang ketiga H Muhammad (Garuda) mengalahkanTan Tjin Djin (Pahlawan). Disebutkan M Saleh merupakan pemain yang mewakili Kalimantan Selatan di PON II di Jakarta. Gelar ganda direbut Juara kelas A untuk ganda direbut pasangan Satra/M Yusran (Sinar Teluk Tiram) yang mengalahkan Kho Tjin Lie/Lem Sek Gwan (Union) 15-9,15-8, peringkat ketiga direbut oleh Zainal/Gusti Rachmadi (SB Kempen) yang menang atas Lim Kwat Tjiang/ Eben Lie (Union).

Di kategori B, para pemenangnya untuk tunggal adalah Budiman (Suasana Gembira), runner-up M Said (PIT), diikuti Lim Djin Lip (Suasana Gembira) dan H Gani (Gajah Mada). Juara ganda adalah Asmuni/Ma’mur (Champaka), kedua Djaswadi/Sekowadi (Pahlawan), diikuti Sanafiah/Sjahrani (PBAM) dan Basrie/Amin (PBAM).(sumber :www.pb-pbsi.net)

2 thoughts on “Bulu tangkis era 1950

  1. gouw soen lok itu ayahnya temen saya….terakhir gouw soen lok memiliki toko, usaha milik ayahnya dan meninggal krn sakit. teman saya anak ketiga dari 3 bersaudara. sekarang temen sy tinggal d bogor bersama ibunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s